BIROKRASI : PANDANGAN YANG LEBIH MENDALAM

Perspektif klasik mengenai birokrasi diajukan oleh ahli sosiologi Jerman, Max Weber. Ia mencoba melukiskan sebuah organisasi yang ideal, organisasi yang secara murni rasional dan yang akan memberikan efisiensi operasi yang maksimum. Di bawah ini merupakan esensi dari birokrasi Weber atau disebut juga organisasi yang ideal. Tetapi harus diingat bahwa model birokrasi Weber lebih merupakan gambaran yang hipotesis ketimbang yang sebenarnya tentang bagaimana kebanyakan organisasi itu distruktur :

  • Pembagian kerja
  • Hierarki kewenangan yang jelas
  • Formalisasi yang tinggi
  • Bersifat tidak pribadi (impersonal)
  • Pengambilan keputusan mengenai penempatan pegawai yang didasarkan atas kemampuan
  • Jejak karier bagi para pegawai
  • Kehidupan organisasi yang dipisahkan dengan jelas dari kehidupan pribadi

Karakteristik-karakteristik tersebut menggambarkan “ideal type” dari Weber mengenai organisasi yang rasional dan efisien. Tujuannya jelas dan eksplisit, posisi diatur dalam suatu hierarki berbentuk piramida, dengan wewenang yang semakin meningkat waktu bergerak ke atas dalam organisasi. Kewenangan terletak pada posisi, bukan pada orang-orang yang menduduki posisi tersebut.

Tema sentral dari model Birokrasi Weber adalah standarisasi. Perilaku orang dalam birokrasi ditentukan sebelumnya oleh struktur dan proses yang distandarisasi. Model itu sendiri dapat dipecah menjadi tiga kelompok karakteristik : yang berhubungan dengan struktur dan fungsi organisasi, yang berhubungna dengan cara untuk memberi imbalan terhadap usaha, dan yang berhubungan dengan perlindungan bagi para anggota secara individual.

Model Weber memperinci suatu hierarki kedudukan, dengan setiap kedudukan berada di bawah kedudukan yang lebih tinggi. Masing-masing kedudukan didiferensiasi secara horisontal oleh pembagian kerja. Pembagian kerja tersebut menciptakan unit-unit yang menguasai bidang-bidang tertentu, menentukan daerah dimana dilakukan kegiatan yang konsisten dengan kemampuan anggota unit, memberi tanggung jawab bagi pelaksana kegiatan yang konsisten dengan kemampuan anggota unit, memberi tanggung jawab bagi pelaksanaan tindakan tersebut, dan mengalokasikan wewenang yang sebanding untuk melakukan tanggung jawab tersebut. Pada saat yang sama, peraturan tertulis mengatur prestasi tugas para anggota. Pembebasan struktur dan fungsi-fungsi tersebut memberikan keahlian tiggi tertentu, koordinasi peran, dan kontrol dari anggota melalui standarisasi.

Kelompok karakteristik kedua pada model Weber berhubungan dengan imbalan. Para anggota menerima gaji selaras dengan pangkat mereka dalam organisasi. Promosi didasarkan atas kriteria yang objektif seperti senioritas atau keberhasilan. Karena para anggota bukan pemilik, maka perlu diadakan pemisahan yang jelas antara masalah pribadi dan milik mereka serta masalah dan milik organisasi. Selanjutnya diharapkan bahwa komitmen kepada organisasi adalah yang tertinggi, kedudukan dalam organisasi adalah pekerjaan satu-satunya dan yang paling utama.

Akhirnya, model Weber mencoba untuk melindungi hak individu. Sebagai imbalan atas komitmen terhadap kariernya, para anggota menerima perlindungan terhadap tindakan sewenang-wenang oleh para atasan, pengetahuan yang jelas mengenai tanggung jawab mereka dan jumlah wewenang yang dipegang atasan mereka, dan kemampuan untuk naik banding atas keputusan yang mereka rasakan tidak adil atau berada di luar bidang kewenangan atasan mereka.

Birokrasi paling banyak diserang karena mendorong penyimpangan tujuan (goal displacement), mengganti tujuan organisasi dengan tujuan sub-unit atau tujuan pribadi. Argumentasi yang paling umum disampaikan oleh Robert Merton. Setelah mengakui bahwa peraturan yang birokratis dan impersonality menghasilkan suatu tingkat keandalan dan daya ramal yang tinggi, ia menunjukkan bahwa penyesuaian (conformity) dapat merusak karena mengurangi fleksibilitas. Peraturan yang menjadi lebih penting daripada tujuan yang dirancang untuk melayani. Akibatnya adalah penyimpangan tujuan dan hilangnya keefektifan organisasi. Philip Selznick juga percaya bahwa cara bisa merubah tujuan melalu penyimpangan tujuan. Spesialisasi dan diferensiasi menciptakan sub-sub unit dengan tujuan, bahwa spesialisasi dan diferensiasi menciptakan sub-sub unit dengan tujuan yang berbeda. Tujuan dari masing-masing sub-unit menjadi yang utama bagi anggota sub-unit. Alvin Gouldner, mengajukan bahwa tujuan bukan saja menetapkan perilaku yang tidak dapat diterima, tetapi juga menetapkan tingkat  minimum dari prestasi yang dianggap sudah mencukupi.

Konklusi kita adalah birokrasi merupakan bentuk organisasi yang dominan di masyarakat dan berjasa karena paling baik bekerja dengan jenis-jenis teknologi dan lingkungan yang kebanyakan dipunyai organisasi. Yang penting, birokrasi juga konsisten dalam hal mempertahankan kontrol dalam tangan dominant coalition dalam organisasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s